Sabtu, 17 November 2012

Dasar dari zuhud adalah ilmu dan cahaya yang memancar dalam kalbu dan melapangkan dada. Alloh Swt berfirman :

"Dan janganlah kamu tunjukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami coba mereka dengannya.Dan karunia tuhan adalah lebih baik dan lebih kekal." (Qs. Thaha:131)

Ada  beberapa tingkatan  hidup zuhud :
1. dia hidup zuhud sementara nafsunya cenderung pada dunia, namun ia terus berjuang dan memeranginya. Ia adalah orang yang berupaya hidup zuhud (mutazahhid) bukan zahid. Sungguh demikian awal orang yang zuhud adalah upaya hidup zuhud (mutazahhid).

2. dirinya berpaling dari dunia, sama sekali tidak cenderung kepadanya. Karena dia tahu bahwa kompromi antara kenikmatan dunia dan akhirat sangatlah mustahil. Maka jiwanya dibiarkan meninggalkan dunia, sebagaimana seseorang yang mengorbankan dirham, guna mendapatkan permata, meskipun dirham itu sangat ia cintai. Inilah hidup zuhud.

3. jiwanya tidak cenderung dan tidak berpaling dari dunia. Baginya ada dan tiadanya harta benda dunia adalah sama.
Harta bagi dia seperti air, perbendaharaan (khazanah) Allah seperti samudra. Itulah sebabnya hatinya tidak pernah bergerak, baik itu karena cinta ataupun berpaling dari harta benda.
Tingkatan ini yang paling sempurna, karena orang yang benci terhadap sesuatu, disibukkan oleh sesuatu itu sendiri, sebagaimana orang yang mencintainya.

Motif zuhud terbagi dalam 3 tingkatan yaitu :
1. rasa takut (khauf) terhadap api neraka. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang takut (al-kha'fun).
2. cinta pada kenikmatan akhirat. Ini lebih tinggi dari yang pertama. Inilah zuhud orang-orang yang berharap (ar-raajun).
Ibadah yang berdasarkan rasa harap ( ar-raja') lebih utama dari ibadah yang berdasarkan rasa takut (al-khauf).
Karena rasa harap itu mengantarkan pada rasa cinta (mahabbah).
3.  sikap menjauhkan diri dari perhatian terhadap selain Al-Haq, sebagai upaya menyucikan diri dari selain Al-Haq dan sebagai sikap mengecilkan selain Allah Swt. Ini adalah zuhud orang-orang yang ma'rifatullah (al-'arifuun). Inilah zuhud yang hakiki. Sedangkan dua bentuk zuhud sebelumnya adalah sekedar muammalat, sebab bisa saja si zahid dalam dua tingkatan diatas  lepas dari sesuati harapan masa kini (dunia) untuk diganti dengan masa depan (akhirat) yang pahalanya berlipat ganda.